KALIMANTAN SELATAN — RSV jadi penyebab utama rawat inap bayi di banyak negara, dan hampir separuh kasusnya terjadi pada tiga bulan pertama kehidupan. Kenali gejala khasnya, bedanya dengan flu biasa, serta langkah pencegahan yang bisa ibu siapkan sejak masa kehamilan.
Bayi baru lahir belum punya sistem imun yang matang. Virus yang bagi orang dewasa cuma bikin pilek ringan bisa berubah jadi gangguan napas serius pada bayi di bawah enam bulan.
RSV atau respiratory syncytial virus adalah infeksi saluran napas yang sangat menular. Pada bayi, infeksi ini bisa berkembang cepat dan berujung rawat inap.
Dr. Charis Chambers, dokter kandungan sekaligus pediatric and adolescent gynecologist, menjelaskan bahwa risiko terbesar ada di bulan-bulan awal. "Selama bulan-bulan awal kehidupan, itulah saat bayi berada pada risiko tertinggi. Sistem imun mereka perlahan terbentuk, dan cara RSV memengaruhi orang dewasa tidak sama dengan bayi," ujarnya.
Musim penularannya cenderung berlangsung pada musim gugur dan dingin. Karena itu, bayi yang lahir di periode tersebut perlu perhatian ekstra.
RSV sering disangka flu biasa karena gejalanya mirip: demam dan lemas. Yang membedakan adalah cara bayi bernapas.
Menurut Dr. Chambers, ada istilah work of breathing atau kerja napas. Bayi bisa terlihat sangat lelah, napasnya cepat dan berbunyi, serta muncul tarikan di area dada.
Tarikan napas dan napas cepat berbunyi itu termasuk tanda bahaya. Jika ibu melihat gejala seperti ini, segera hubungi dokter anak, jangan menunggu sampai besok.
Tubuh ibu hamil secara alami memproduksi antibodi dan menyalurkannya ke bayi. Mekanisme inilah yang dimanfaatkan vaksin RSV maternal.
"Banyak ibu tidak menyadari bahwa mereka terus membuat antibodi terhadap hal-hal yang mereka hadapi dan menyalurkannya ke bayi secara alami. Vaksinasi RSV memakai proses alami itu," jelas Dr. Chambers.
Vaksin ini diberikan pada usia kehamilan 32 sampai 36 minggu, untuk membantu melindungi bayi sejak lahir hingga usia enam bulan. Pemberian di luar rentang tersebut tidak dianjurkan karena berkaitan dengan risiko kelahiran prematur.
Aktris Chloe Bridges mengaku baru mengenal RSV dari dokter kandungannya. Ia memilih mengikuti rekomendasi tersebut saat hamil dan merasa terbantu selama enam bulan pertama bayi laki-lakinya, Beau, yang lahir Februari 2024.
Efek samping paling umum pada ibu hamil adalah nyeri di tempat suntikan, sakit kepala, nyeri otot, dan mual. Pada bayi, tercatat kasus berat badan lahir rendah dan kuning, meski persentasenya kecil.
Vaksin ini juga tidak diberikan pada orang dengan riwayat reaksi alergi berat terhadap komponennya. Ada pula laporan peningkatan risiko Guillain-Barré syndrome setelah vaksinasi.
Keputusan tetap ada di tangan dokter. Diskusikan riwayat kesehatan ibu sebelum menerima vaksin apa pun saat hamil.
Selain soal virus, kedua narasumber sepakat bahwa menjadi ibu berarti belajar meminta bantuan. Chloe menyebut masa awal jadi ibu sebagai fase yang terus berubah.
"Kalau hari ini dia susah tidur, aku langsung panik dan merasa dia akan jadi bayi yang selalu susah tidur. Padahal hari buruk hari ini bukan berarti hari buruk besok," katanya.
Dr. Chambers mengakui ia harus melepas kebiasaan serba bisa sendiri. "Ibu hamil butuh desa, butuh tim, butuh dukungan. Kesehatan mental ibu akan jauh lebih baik karenanya," ujarnya.
Segera bawa bayi ke fasilitas kesehatan jika muncul napas cepat, tarikan di dada, bibir kebiruan, bayi sulit menyusu, atau lemas luar biasa. Jangan menunggu gejala memburuk.
Bayi di bawah tiga bulan yang menunjukkan gejala saluran napas perlu dievaluasi dokter lebih cepat. Sistem imun mereka belum mampu melawan infeksi sendiri.
Melindungi bayi dari RSV dimulai jauh sebelum ia lahir. Konsultasikan dengan dokter kandungan soal vaksinasi maternal, pahami tanda bahayanya, dan siapkan dukungan di sekitar ibu agar masa awal menyusui dan merawat bayi terasa lebih ringan.