Lahan Gambut Kalsel Bisa Menyala di Bawah Tanah, BPBD Sebut Pemadaman Butuh Penanganan Khusus

Penulis: Cahyo Wibowo  •  Sabtu, 26 September 2026 | 11:47:01 WIB
Lahan gambut di Kalimantan Selatan berpotensi terbakar di bawah permukaan tanah saat musim kemarau.

BANJARMASIN — Lahan gambut terbentuk dari tumpukan sisa tumbuhan yang membusuk tidak sempurna selama ribuan tahun. Kondisi jenuh air dan minim oksigen membuat proses pelapukan berjalan sangat lambat, menghasilkan lapisan tanah kaya bahan organik dan karbon.

Susunan itulah yang membedakan gambut dari tanah mineral. Strukturnya berpori menyerupai spons, mampu menampung air dalam jumlah besar pada musim hujan.

Namun sifat itu berbalik ketika kemarau tiba. Muka air tanah yang turun akibat cuaca panjang kering atau tata kelola kanal yang keliru membuat lapisan gambut kehilangan kelembapan dan berubah menjadi bahan bakar.

Api Menjalar di Bawah Permukaan, Asap Muncul Tanpa Kobaran

Pada kondisi kering, percikan api yang awalnya membakar vegetasi di permukaan bisa masuk ke lapisan gambut dan menyebar di bawah tanah. Kebakaran jenis ini tidak selalu memperlihatkan nyala api yang terlihat mata.

Bara justru terus membakar lapisan organik di kedalaman dan muncul kembali di titik-titik berbeda. Asap dapat mengepul dari permukaan meski tidak ada kobaran api, terhubung dengan sumber panas di sekitar akar dan bahan organik.

Kepala BPBD Kalsel Ronny Eka Saputra menjelaskan, penanganan di lapangan tidak selalu berjalan dengan kondisi yang sama. Petugas dituntut menyesuaikan metode dengan situasi dan kendala yang ditemukan saat proses pemadaman.

"Kami terus belajar dari kondisi yang terjadi. Kalau situasinya tidak memungkinkan atau kami mengalami kendala, otomatis kami akan mencari solusi dan menyesuaikan dengan kondisi di lapangan," ujarnya.

Menyiram Permukaan Tanah Belum Tentu Cukup

Metode pemadaman gambut menuntut petugas memastikan lapisan yang terbakar benar-benar basah dan kehilangan sumber panas. Air harus diarahkan ke titik yang masih mengeluarkan asap maupun lokasi yang terindikasi menyimpan bara di bawah permukaan.

BPBD Kalsel termasuk pihak yang melakukan penyemprotan air ke titik-titik asap untuk mendinginkan dan memadamkan bara tersembunyi. Kendala utama yang kerap dihadapi adalah ketersediaan sumber air.

Karena itu, petugas memanfaatkan berbagai sumber di sekitar lokasi, seperti penampungan air maupun sumur. "Misalnya, bagaimana memanfaatkan sumber air, penampungan maupun sumur untuk membantu mengurangi dampak dan memenuhi kebutuhan air di daerah terdampak," kata Ronny.

Modifikasi Cuaca hingga Dua Unit di Jembalu

Selain mengoptimalkan sumber air di lapangan, penanganan ditempuh melalui operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk memaksimalkan potensi awan hujan. Langkah itu bertujuan menambah sumber air secara bertahap sekaligus mengurangi partikel asap di udara.

Ronny menyebut upaya tersebut bagian dari evaluasi dan perbaikan penanganan ke depan, khususnya dalam mitigasi dan pencegahan kebakaran. "Hal-hal seperti ini terus kami lakukan sebagai bagian dari perbaikan ke depan, terutama dalam rangka mitigasi dan pencegahan," jelasnya.

Dukungan masyarakat juga dinilai penting. Untuk wilayah Jembalu, menurut Ronny, saat ini baru tersedia dua unit yang mendukung penanganan. "Untuk wilayah ini, khususnya di Jembalu, sementara baru ada dua unit yang tersedia," ungkapnya.

Asap Pekat Ancam Kelompok Rentan

Kebakaran gambut berpotensi menghasilkan asap dalam jumlah besar. Asap pekat menurunkan kualitas udara dan jarak pandang, sekaligus mengganggu aktivitas warga sehari-hari.

Dampak kesehatan paling rentan dialami anak-anak, lanjut usia, dan masyarakat dengan gangguan pernapasan. Karena itu, pencegahan menjadi langkah utama, dimulai dari penanganan sejak munculnya tanda-tanda awal.

Pemantauan kawasan rawan, patroli, deteksi titik panas, dan pelaporan cepat saat ditemukan titik api menjadi kunci. Pengelolaan tata air juga tak kalah penting agar lahan gambut tetap lembap sepanjang musim kemarau.

Warga diminta tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar, terutama saat cuaca panas dan kering. Penanganan kebakaran gambut pada akhirnya bergantung pada kesigapan deteksi dini dan kesediaan sumber air di lapangan.

Reporter: Cahyo Wibowo
Sumber: kalimantanpost.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top