KALIMANTAN SELATAN — Kisah pasangan menikah 18 tahun yang sama-sama berselingkuh menyita perhatian warganet Vietnam dan Indonesia. Di balik konflik orang tua, ada empat anak usia 3 hingga 17 tahun yang butuh perhatian, pengasuhan, dan rumah yang stabil.
Pasangan bernama Tien (44) dan istrinya (39) telah dikaruniai empat anak berusia 17, 15, 12, dan 3 tahun. Selama bertahun-tahun, keduanya menjalani peran masing-masing: Tien mencari nafkah, sang istri mengurus rumah dan anak.
Peran itu berubah ketika Tien mengetahui istrinya menjalin hubungan dengan rekan kerja sekitar dua tahun lalu. Ia berusaha menghentikannya, tetapi tidak berhasil. Karena memikirkan keempat anak, Tien memilih tidak mengajukan perceraian.
Situasi rumah tangga mereka ternyata tidak sesederhana itu. Tien mengaku juga menjalin hubungan dengan perempuan lain selama 12 tahun, dimulai ketika sang istri mengandung anak ketiga.
Sang istri mengetahui hubungan tersebut dan sempat memberikan reaksi. Tien tetap mempertahankannya karena merasa memiliki perasaan tulus terhadap perempuan itu.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: apa yang sebenarnya sedang dipertahankan dari sebuah pernikahan? Kepercayaan sudah rusak dari dua arah, tetapi keduanya memilih bertahan di rumah yang sama.
Masalah bertambah rumit ketika Tien merasa istrinya mulai meninggalkan tanggung jawab keluarga. Sang istri kerap pulang larut malam, bahkan tidak pulang dua hingga tiga hari.
Akibatnya, urusan rumah dan anak ditangani Tien seorang diri. Ia bangun pagi menyiapkan makanan, mengantar anak ke sekolah, menjemput, memasak, hingga mengerjakan pekerjaan rumah.
Tien mengaku kelelahan. Ada hari-hari ketika ia tidak sempat mandi dan hanya bisa beristirahat sebentar sebelum kembali menjalani rutinitas yang sama.
Ia juga mulai menyadari uang Rp 6,8 juta per bulan yang diberikan kepada istrinya tidak cukup untuk empat anak. Biaya sekolah, buku, listrik, air, dan kebutuhan sehari-hari kini lebih banyak ia tanggung sendiri.
Di tengah konflik kedua orang tua, kondisi keempat anak menjadi perhatian utama. Anak usia 3 tahun masih butuh kelekatan aman dengan pengasuh utama, sementara remaja 17 dan 15 tahun sedang membentuk identitas dan hubungan sosialnya.
Ketika orang tua sibuk dengan konflik, anak sering menanggung beban emosional yang tidak terlihat. Mereka bisa merasa cemas, menarik diri, atau menyalahkan diri sendiri atas keretakan rumah tangga.
Stabilitas harian—jadwal makan, sekolah, tidur, dan kehadiran orang dewasa yang konsisten—menjadi pelindung utama anak dari dampak konflik. Sayangnya, rutinitas ini yang paling mudah goyah saat rumah tangga retak.
Konflik pernikahan yang berlarut-larut dan melibatkan perselingkuhan dari kedua pihak bukan persoalan yang bisa diselesaikan sendiri. Konseling pernikahan atau konseling keluarga bisa membantu pasangan memetakan pilihan dengan kepala dingin.
Jika anak menunjukkan perubahan perilaku seperti murung, prestasi sekolah turun, sulit tidur, atau agresif, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan psikolog anak. Intervensi dini membantu anak punya ruang aman untuk bercerita.
Untuk orang tua yang memilih bertahan demi anak, penting memastikan rumah tetap terasa aman. Anak tidak perlu tahu detail konflik, tetapi mereka perlu tahu bahwa mereka dicintai dan tidak bertanggung jawab atas masalah orang dewasa.
Setiap keluarga punya cerita dan batasnya sendiri. Yang bisa dikontrol adalah bagaimana orang tua menjaga komunikasi dengan anak, menjaga rutinitas, dan tidak menjadikan anak sebagai penyampai pesan atau pendengar keluhan pasangan.
Jika Ibu sedang menghadapi situasi serupa, cari dukungan dari orang yang dipercaya—keluarga, sahabat, atau konselor. Mengurus diri sendiri bukan bentuk keegoisan; itu cara agar tetap bisa mengasuh anak dengan tenang.
Keputusan terbaik adalah yang mempertimbangkan keselamatan, kesehatan mental, dan masa depan anak. Tidak ada pihak yang benar dalam perselingkuhan, tetapi selalu ada langkah yang bisa diambil untuk melindungi anak dari dampaknya.