BANJARBARU — Rektor ULM Dr. Iwan Aflanie, dr., M.Kes., Sp.F., SH membuka langsung forum tersebut bersama sejumlah pemangku kepentingan daerah dan pusat. Hadir dalam pembukaan itu perwakilan Kementerian Koordinator Bidang Pangan RI dan Kementerian Pekerjaan Umum, Wakil Bupati Hulu Sungai Utara, serta Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik.
Sejumlah keynote speaker dari universitas di berbagai negara turut mengisi agenda dua hari itu. Isu utama yang diangkat: pertanian lahan basah dan pembangunan infrastruktur di wilayah dataran rendah.
Iwan menyebut INTAN–HANDIL bukan sekadar forum akademik internasional. Menurut dia, konferensi itu menjadi bagian dari identitas ULM dan Kalimantan Selatan yang punya kekuatan besar pada ekosistem lahan basah.
"ULM sangat berbangga atas terselenggaranya INTAN–HANDIL. Ini merupakan jati diri ULM dan Kalimantan Selatan. INTAN–HANDIL mencerminkan filosofi dan kekuatan kita dalam mengembangkan potensi lahan basah," ujarnya.
Ia menegaskan isu lahan basah punya posisi strategis bagi Kalimantan Selatan sekaligus Indonesia. ULM ingin menjadikan keunggulan tersebut melekat dalam pengembangan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
"Lahan basah bukan hanya sekadar sesuatu yang sering didiskusikan, tetapi harus dijiwai oleh ULM. Maka kami mengedepankan keunggulan dalam ekosistem lahan basah," tegasnya.
Menurut Iwan, forum itu harus menghasilkan sesuatu yang bermanfaat lebih luas. Hasil diskusi dan penelitian dalam konferensi diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi berlanjut menjadi karya ilmiah maupun inovasi yang mendukung pembangunan daerah.
"Forum ini tidak akan berhenti pada kegiatan ini saja. Kita mengharapkan ada output atau karya ilmiah, baik dari hasil riset maupun lainnya. ULM go international. Banyak jalan yang dapat kita temukan untuk membawa gagasan dan potensi Kalimantan Selatan ke tingkat global," katanya.
Dekan Fakultas Pertanian ULM Prof. Akhmad Rizalli Saidy, S.P., M.Agr.Sc., Ph.D menilai INTAN–HANDIL menjadi momentum penting untuk menjawab tantangan pemanfaatan lahan, khususnya di Kabupaten Hulu Sungai Utara.
Menurutnya, masih terdapat potensi lahan yang belum dimanfaatkan secara optimal. Kondisi itu membutuhkan inovasi dan pendekatan berbasis ilmu pengetahuan agar lahan yang tersedia dapat dikembangkan secara produktif, sekaligus tetap memperhatikan karakteristik ekosistem lahan basah.
Melalui INTAN–HANDIL 2026, ULM tidak hanya mempertemukan berbagai gagasan dari dalam dan luar negeri. Forum itu juga membuka ruang kolaborasi untuk melahirkan solusi yang dapat diterapkan di kawasan lahan basah.
Konferensi ini menjadi bagian dari langkah ULM memperkuat jejaring internasional. Isu lahan basah Kalimantan Selatan diarahkan menjadi salah satu topik strategis yang diperbincangkan di tingkat global.