KALIMANTAN SELATAN — Keluarga Firdaus Wajidi menggelar tabur bunga di perairan Selat Sunda tepat di hari ulang tahun jurnalis yang hilang kontak saat meliput Anak Krakatau. Prosesi yang diwarnai isak tangis anak dan istri ini jadi cara merawat ingatan sekaligus menyalakan harapan yang belum padam.
Firdaus Wajidi termasuk satu dari lima jurnalis yang dilaporkan hilang kontak bersama tiga kru KM Arupadhatu I saat melakukan peliputan di kawasan Anak Krakatau. Hingga kini, keberadaan mereka belum menemukan titik terang meski operasi pencarian Basarnas sudah resmi dihentikan.
Prosesi tabur bunga berlangsung dari tepi pantai hingga ke tengah perairan Selat Sunda. Beberapa keranjang bunga dibawa keluarga sebagai bentuk penghormatan, ungkapan kasih sayang, dan doa agar Firdaus beserta rombongan segera ditemukan.
Momen yang Seharusnya Bahagia
Di hari yang biasanya disambut dengan tawa dan kue ulang tahun, keluarga memilih diam dan berdoa. Isak tangis anak dan istri Firdaus mewarnai seluruh prosesi.
Momen ini diunggah akun Instagram @prasenja dengan keterangan yang menyentuh. "Hari ini, di hari ulang tahunmu, Nga, kami datang membawa bunga, bukan hadiah. Kami menaburkannya ke laut, tempat yang menyimpan jejak pencarian dan rindu yang belum menemukan jalan pulang," tulisnya.
Unggahan tersebut langsung dibanjiri doa dari warganet. Akun @roni_a menulis, "Semoga keluarga diberikan kesabaran dan dilimpahkan ketabahan." Senada, @ummuaiman_chuwie berdoa agar keluarga Daus diberi kesabaran dan kekuatan melewati semuanya.
Makna di Balik Unggahan yang Viral
Prasenja, sahabat karib Firdaus yang akrab disapa Nga-Nga, buka suara soal deretan unggahan momen tabur bunga yang viral. Baginya, setiap potret dan kalimat bukan sekadar luapan duka.
"Bagi sebagian orang, postingan tentang Firdaus Wajidi, yang akrab kami panggil Nga-Nga, mungkin hanya rangkaian foto, potongan kalimat, puisi, atau video dengan musik yang menyayat hati," ujar Prasenja saat diwawancarai Wolipop.
Ia menyebut ada pesan yang ingin disampaikan: kehilangan seorang sahabat bukan cuma soal seseorang yang tak lagi ada, tapi juga sebagian perjalanan hidup yang tiba-tiba terasa berbeda.
Selama bersahabat, Prasenja dan Firdaus bukan tipe yang gemar mengabadikan momen lewat foto. Penantian panjang setelah kabar hilangnya Nga-Nga membuatnya mengumpulkan kembali jejak visual yang tersisa.
"Sepuluh hari pencarian Basarnas yang saya sendiri menyaksikan di lokasi, mengajarkan saya bahwa ada batas bagi kemampuan manusia, tetapi tidak mudah menemukan batas bagi harapan," ungkapnya.
Pencarian Berakhir, Penantian Belum Tentu
Meski tim SAR telah menghentikan operasi pencarian secara resmi, ikatan emosional dan doa dari orang terdekat tak pernah padam. Prosesi tabur bunga yang bertepatan dengan hari ulang tahun Firdaus dimaknai sebagai perayaan atas jejak kebaikan yang pernah ditinggalkan.
"Pencarian boleh selesai, tetapi penantian tidak serta-merta berakhir. Bagi keluarga, ada ruang yang tak bisa begitu saja ditutup. Bagi sahabat, ada pertanyaan yang mungkin akan tinggal lebih lama daripada jawaban," jelas Prasenja.
Ia berharap hari itu tidak hanya jadi pengingat tentang seseorang yang belum kembali, tapi juga perayaan atas kehidupan yang pernah dijalani Firdaus.
Menutup perbincangan, Prasenja berharap kisah dan kenangan tentang Firdaus bisa menginspirasi banyak orang untuk menghargai arti persahabatan dan ketabahan keluarga. "Postingan-postingan itu bukan sekadar tentang seseorang yang hilang. Itu adalah cara saya mengatakan bahwa Nga-Nga pernah ada, pernah berjalan bersama kami, dan akan selalu menjadi bagian dari cerita yang kami bawa pulang," pungkasnya.