BARABAI — Permukaan Sungai Barabai yang menyusut membuat tepiannya lebih terbuka, dan dari situ persoalan lama kembali muncul: sampah rumah tangga yang dibuang sembarangan. Di beberapa titik sekitar Siring Joewita, sampah tampak menumpuk di bantaran maupun mengapung mengikuti aliran air yang rendah.
Kondisi tersebut disayangkan warga karena sungai masih dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama ketika sejumlah wilayah HST dilanda kekeringan. Air bersih sulit didapat, sementara aliran sungai yang tersisa justru tercemar sampah.
Warga Minta Warga Lain Berhenti Buang Sampah ke Sungai
Riyan, warga Barabai, berharap kesadaran masyarakat meningkat. Ia menilai sungai bukan tempat pembuangan, apalagi saat debit air sedang rendah.
"Kalau bisa masyarakat jangan membuang sampah ke sungai. Kasihan masyarakat yang masih bergantung dengan air sungai, apalagi air sungai masih surut," ujarnya.
Menurut Riyan, kondisi sungai yang surut seharusnya menjadi perhatian bersama. Kebersihan aliran air perlu dijaga agar tidak semakin tercemar ketika kemarau berlangsung panjang.
Kekeringan Bikin Warga Makin Bergantung pada Air Sungai
Warga lain, Lana, menyoroti dampak kekeringan yang membuat sebagian masyarakat HST kesulitan memperoleh air bersih. Ia berharap musim kemarau segera berakhir.
"Semoga musim kemarau cepat berlalu, karena banyak sekali masyarakat yang kekeringan dan kesulitan air bersih," katanya.
Keluhan itu muncul di tengah upaya sejumlah instansi menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah terdampak. Polres HST, Kodim 1002/HST, dan PDAM Barabai tercatat telah mengirim pasokan air ke sejumlah titik yang mengalami kekeringan.
DLH HST Sudah Bersihkan Sungai, Tapi Sampah Kembali Muncul
Persoalan sampah di Sungai Barabai sebelumnya juga menjadi perhatian Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten HST. Pembersihan sungai dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga kebersihan aliran.
Meski begitu, pantauan terbaru menunjukkan sampah rumah tangga masih ditemukan di kawasan sungai. Artinya, upaya pembersihan belum diimbangi perubahan kebiasaan sebagian warga.
Kemarau yang berlanjut sejak Juli 2026 memperbesar risiko pencemaran. Debit air yang rendah membuat kemampuan sungai mengencerkan limbah menurun, sementara kebutuhan warga terhadap air sungai justru naik saat sumur dan sumber lain mengering.