Pemkot Banjarmasin Canangkan Masjid Ramah Anak, Target Raih Predikat Kota Layak Anak Paripurna

Penulis: Cahyo Wibowo  •  Kamis, 06 Agustus 2026 | 21:14:01 WIB
Wali Kota Banjarmasin H Muhammad Yamin HR mencanangkan program masjid ramah anak di Banjarmasin, Kamis.

BANJARMASIN — Pemkot Banjarmasin resmi mencanangkan pembangunan masjid ramah anak. Program ini dirancang untuk memastikan anak-anak muslim di kota seribu sungai mendapatkan tempat ibadah yang aman, nyaman, dan mendukung proses belajar ilmu agama sejak dini.

Wali Kota Banjarmasin H Muhammad Yamin HR menyampaikan langsung inisiatif ini di Banjarmasin, Kamis. Ia menegaskan bahwa pemenuhan hak anak tidak boleh berhenti di ruang publik atau sekolah, melainkan harus menjangkau hingga ke tempat ibadah.

"Kita ingin memenuhi hak-hak anak hingga ke tempat ibadah yang aman dan nyaman," ujarnya.

Modal Menuju Predikat Paripurna

Pencanangan ini bukan tanpa dasar. Sejak 2022-2023, Kota Banjarmasin telah menyandang predikat Kota Layak Anak (KLA) kategori Nindya dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI. Dengan adanya masjid ramah anak, Pemkot optimistis bisa naik satu tingkat lebih tinggi.

"Ini pasti kita wujudkan secepatnya, pembangunan masjid ramah anak, sebagai kota yang ingin menuju Kota Layak Anak katagori Paripurna," tegas Yamin.

Menurutnya, keberhasilan mencetak generasi emas tidak bisa dibebankan pada satu instansi. Peran keluarga, tenaga pendidik, dan masyarakat menjadi pilar utama yang harus bergerak bersama-sama.

Banjarmasin Emas 2045

Yamin mengaitkan program ini dengan target besar nasional. Menyongsong Indonesia Emas 2045, Banjarmasin tidak ingin tertinggal dan menyiapkan sumber daya manusia sejak dari bangku PAUD hingga remaja.

"Kalau Indonesia menuju Indonesia Emas 2045, maka Banjarmasin juga harus menjadi Banjarmasin Emas," katanya.

Selain fokus pada aspek keagamaan, Pemkot juga menekankan pendidikan karakter peduli lingkungan. Anak-anak sejak dini dibiasakan menjaga kebersihan dan memahami pengelolaan sampah sebagai bekal masa depan.

"Kita harus terus menanamkan jiwa kepedulian kepada anak-anak, termasuk menjaga kebersihan lingkungan dan memahami cara menangani persoalan sampah. Itu penting untuk masa depan mereka," ujar Yamin lagi.

Dukungan Nyata untuk Pendidikan Anak

Rangkaian Hari Anak Nasional ke-42 tahun 2026 di Banjarmasin tidak hanya berhenti pada seremonial. Pemkot menyerahkan bantuan tas sekolah secara simbolis sebagai bentuk dukungan terhadap dunia pendidikan.

Penghargaan juga diberikan kepada Kelurahan Ramah Perempuan dan Peduli Anak (KRPPA). Secara bersamaan, penerbitan Kartu Identitas Anak (KIA) dilakukan untuk memperkuat jaminan hak sipil anak di kota ini.

PAUD sebagai Investasi Terbaik

Bunda PAUD Kota Banjarmasin, Hj. Neli Listriani, menegaskan bahwa Hari Anak Nasional adalah momentum memperkuat komitmen kolektif. Ia menyoroti tiga gerakan utama yang harus disukseskan bersama.

Pertama, Gerakan Wajib Belajar 13 Tahun yang diawali satu tahun pendidikan prasekolah. Kedua, pembangunan karakter melalui 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Ketiga, pendampingan anak dalam menggunakan gawai secara bijak.

"PAUD bukan sekadar tempat bermain, tetapi tempat anak belajar mengenal dirinya, berkomunikasi, bekerja sama, dan mengembangkan kemampuan dasar. Ini adalah investasi terbaik bagi masa depan mereka," ujar Neli.

Ia mengingatkan bahwa keteladanan orang tua dan guru adalah kunci utama pembentukan karakter anak. Kolaborasi semua pihak dinilai mutlak untuk memastikan setiap anak mendapatkan haknya untuk belajar, bermain, dan tumbuh dalam lingkungan penuh kasih sayang.

"Membangun generasi emas Indonesia bukan hanya tugas pemerintah atau sekolah. Orang tua, guru, pemerintah, dan masyarakat harus bergandengan tangan memastikan setiap anak mendapatkan haknya untuk belajar, bermain, tumbuh, berkembang, dan hidup dalam lingkungan yang penuh kasih sayang," pungkasnya.

Reporter: Cahyo Wibowo
Sumber: kalsel.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top