Pencarian

Joby Aviation Akuisisi Resonant Sciences Rp8,2 Triliun untuk Perkuat Bisnis Pertahanan

Rabu, 12 Agustus 2026 • 00:30:01 WIB
Joby Aviation Akuisisi Resonant Sciences Rp8,2 Triliun untuk Perkuat Bisnis Pertahanan
Joby Aviation resmi mengakuisisi Resonant Sciences senilai US$500 juta untuk memperkuat bisnis pertahanan.

KALIMANTAN SELATAN — Produsen taksi terbang listrik asal California, Joby Aviation, resmi mengumumkan kesepakatan akuisisi Resonant Sciences senilai US$500 juta (sekitar Rp8,2 triliun) dalam bentuk tunai dan saham. Kesepakatan ini terungkap melalui dokumen regulasi yang diajukan pada Selasa lalu, menandai langkah terbaru perusahaan untuk memperdalam penetrasi di sektor pertahanan.

Resonant Sciences Jadi Divisi Pertahanan Joby

Resonant Sciences, perusahaan berbasis di Ohio yang bergerak di bidang sistem radio frekuensi dan sensor, akan bertransformasi menjadi divisi bisnis pertahanan khusus di bawah naungan Joby. Pendiri sekaligus CEO Resonant, J. Micah North, ditunjuk memimpin divisi baru ini.

Divisi pertahanan tersebut akan menyerap seluruh proyek pertahanan Joby yang sudah berjalan, termasuk pengembangan pesawat turbin-listrik dan hidrogen-listrik, serta teknologi otonomi. Dengan begitu, sisa operasional Joby Aviation bisa fokus penuh pada sertifikasi, produksi massal, dan peluncuran layanan taksi udara listrik komersialnya.

Strategi Pendapatan Jangka Pendek

Akuisisi ini bukan tanpa alasan finansial. Resonant Sciences melaporkan pendapatan trailing 12 bulan sebesar US$100 juta dan memiliki akses ke program rahasia pemerintah AS. Teknologi radio frekuensi dan sensing milik Resonant juga dinilai melengkapi pengembangan pesawat eVTOL (electric vertical takeoff and landing) milik Joby.

Joby tercatat sudah beberapa kali memakai strategi pertumbuhan melalui akuisisi untuk menghasilkan pendapatan jangka pendek. Pasalnya, proses pengembangan, sertifikasi, dan produksi massal eVTOL membutuhkan biaya besar dan waktu bertahun-tahun—kondisi yang kerap membuat investor gelisah menunggu titik impas.

Tahun lalu, Joby mengakuisisi bisnis rideshare helikopter milik Blade Air Mobility senilai sekitar US$125 juta. Akuisisi itu memberi Joby akses langsung ke jaringan 12 terminal di pasar-pasar utama seperti New York City, termasuk basis terminal di Bandara JFK, Bandara Newark Liberty, sisi timur dan barat Manhattan, serta Wall Street. Hasilnya terlihat jelas: Joby membukukan pendapatan US$38,6 juta di kuartal kedua, dengan US$36,2 juta di antaranya berasal dari bisnis Blade.

Pengembangan Pesawat Hibrida untuk Pertahanan

Upaya Joby merambah sektor pertahanan semakin terlihat sejak dua tahun terakhir. Tahun lalu, perusahaan menandatangani perjanjian dengan kontraktor pertahanan L3Harris Technologies untuk mengeksplorasi pengembangan kelas pesawat baru—spesifiknya pesawat VTOL (vertical take-off and landing) hibrida turbin gas yang mampu terbang otonom untuk aplikasi pertahanan.

Pesawat VTOL hibrida tersebut akan berbasis pada platform S4 milik Joby yang selama ini dikembangkan dengan powertrain all-electric. Pada 2024, Joby mendemonstrasikan versi hibrida hidrogen-listrik dalam kontrak pemerintah yang berhasil terbang sejauh 521 mil—lebih dari dua kali jarak tempuh prototipe baterai-listriknya.

Bagi konsumen Indonesia yang mengikuti perkembangan kendaraan udara perkotaan, langkah Joby ini menunjukkan bahwa jalan menuju komersialisasi taksi terbang masih panjang dan membutuhkan suntikan pendapatan dari sektor lain. Strategi akuisisi berkelanjutan ini menjadi cara Joby menjaga kas perusahaan tetap sehat sambil menunggu sertifikasi eVTOL komersialnya rampung.

Follow www.kabarkapuas.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: techcrunch.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks