KALIMANTAN SELATAN — Laporan dari The Telegraph mengungkapkan bahwa drone permukaan nirawak (USV) K3 Scout, yang dioperasikan oleh Angkatan Laut Kerajaan Inggris (Royal Navy) sejak Maret lalu, memiliki celah keamanan serius. Komponen kamera pada drone tersebut dilaporkan mengirimkan transmisi data ke server di China tanpa sepengetahuan pengguna. Temuan ini langsung memicu kekhawatiran di kalangan militer, terutama karena armada senilai £12 juta (sekitar Rp 240 miliar) ini juga digunakan dalam latihan NATO di Laut Baltik.
Modus Kebocoran dan Respons Kementerian Pertahanan
Menurut sumber The Telegraph, kamera yang bermasalah itu berasal dari pemasok pihak ketiga yang sebelumnya telah memberikan jaminan keamanan. Masalah ini baru terungkap saat Kementerian Pertahanan (MoD) melakukan penilaian kerentanan siber rutin. Setelah ditemukan, MoD langsung memutus konektivitas internet pada kamera untuk menghentikan transmisi data.
Juru bicara MoD menegaskan bahwa investigasi menemukan tidak ada bukti data atau sistem militer yang diakses atau dikompromikan. Transmisi yang terjadi disebut hanya berupa "komunikasi detak jantung" (heartbeat communications), yaitu sinyal singkat untuk memverifikasi perangkat aktif dan berfungsi normal, bukan mengirimkan data visual atau intelijen.
Meski demikian, seorang sumber yang tidak disebutkan namanya menyebut insiden ini sebagai "kegagalan besar" yang merusak kepercayaan terhadap platform drone tersebut. Ada pula kekhawatiran bahwa drone bisa saja menyadap pertemuan pasukan khusus yang sangat rahasia, bahkan saat perangkat dalam keadaan mati.
Dampak pada Kepercayaan dan Rantai Pasok Global
Insiden ini menjadi contoh terbaru dari meningkatnya kekhawatiran negara-negara Barat terhadap infiltrasi teknologi China di infrastruktur sensitif. Sebelumnya, gelombang penolakan sempat menyasar raksasa telekomunikasi seperti Huawei dan ZTE. Kini, perhatian beralih ke industri drone yang perannya makin krusial, khususnya setelah terbukti efektif dalam konflik Rusia-Ukraina.
Menariknya, ketergantungan pada komponen China ternyata sulit dihindari. Bahkan produsen drone di Taiwan, yang merupakan lawan politik utama China, baru-baru ini mengakui bahwa operasi manufaktur mereka masih bergantung pada komponen buatan China. Hal ini menunjukkan kompleksitas rantai pasok global yang membuat pengamanan perangkat militer menjadi tantangan tersendiri.
Spesifikasi dan Pengguna K3 Scout
K3 Scout adalah drone laut yang dirancang untuk misi pengawasan dan pengintaian. Drone ini mampu membawa muatan hingga 600 kg dan dapat beroperasi di laut secara terus menerus selama 30 hari. Selain digunakan oleh Royal Marines Inggris, drone ini juga dioperasikan oleh Komando Operasi Khusus AS (US SOCOM) dan telah diuji dalam latihan NATO di Laut Baltik.
Rencana awal, armada drone ini juga ditawarkan untuk mengamankan kebebasan navigasi di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak tersibuk di dunia. Namun, dengan adanya temuan celah keamanan ini, masa depan operasional K3 Scout di medan yang sensitif menjadi tidak pasti.
Langkah Selanjutnya
MoD menegaskan bahwa prosedur penilaian keamanan siber yang ketat telah berhasil mengidentifikasi dan menutup celah sebelum data penting bocor. Meski begitu, insiden ini menjadi pengingat bahwa perangkat keras buatan China tetap menjadi risiko besar dalam infrastruktur militer negara-negara Barat. Pihak oposisi di Inggris dikabarkan "geram" dengan temuan ini dan kemungkinan akan menuntut audit menyeluruh terhadap seluruh perangkat keras asing yang digunakan militer.